Senin, 26 Januari 2009

Terimakasih Sahabat:-)

Dalam kisahku yang tak pasti
Jutaan manusia memenuhi hari-hariku
Dalam banyaknya persahabatan yang kujalin
Hadirmu tiada kan dapat tergantikan oleh yang lain
Hidupku yang penuh lika-liku ini menjadi berarti karena sosokmu
Kau selalu buatku bersyukur dalam sujud doaku
Kau adalah hadiah yang tiada ternilai
Bukti cinta yang tak pernah lekang dimakan waktu yang terus berganti
Kusadari diri ini hanyalah hampa tanpamu
Ceritaku takkan memiliki makna tanpa bersua denganmu
“Terimakasih sahabat”
Hanya untaian kata itu yang dapat ungkapkan lubukku terdalam

Bisik Asa

Di balik kedegilan suatu jawab tanya
Kuterseok pada pasir yang berkerikil
Olengkan langkah gontai yang tak berjejak lagi

Belahan kisah yang tiada dapat tersangkal akhirnya
Tuntun kedua tungkaiku tuk mau pahami realita berbisik
Padamkan asa-asa yang mengganggu tubir-tubir luka

Bayang-bayang semu menghadang setiap indahnya khayal
Aku terbuai di harap yang tak bertinta lagi
Gugahkan ujung hati tersempit yang kumiliki

Arti Dirimu

Kesabaranmu menyurutkan amarah terpendam
Mengubur kenangan masa kelam
Ketekunanmu melumpuhkan kegundahan jiwa
Menuntunku tuk meluruskan jalanku
Kau setia mendampingi sosok rapuh ini
Tanpa mau mengintip cerita lalu
Ketulusanmu menyudutkan ragu yang menghantui
Menuntunku tuk merealisasikan janjiku padamu
Kata-katamu meneduhkan galauku
Menyudahi kesuraman yang melanda
Cinta tulusmu mengundang semangat hidupku yang nyaris lenyap
Menerbitkan matahari yang telah terbenam di jiwa
Tak terpikir sedetikpun di benakmu tuk tinggalkanku
Kau memayungiku di kala hujan terus menerpa hidup
Di waktu petir menggelegar dalam pikiranku
Kau mengikatku dalam tujuan yang berarti

Pedih

Kutemukan..
Sosok dalam rupa bersama
Gelayut manja merengkuh tangan itu
Hati tercabik
Tak bertulang..
Tak berdaging..
Nafasku tersengal
Jantungku seolah terhenti detaknya
Tak mampu pungkiri jujurnya anganku
Pedih merambat nadiku
Tergores…
Tersayat….
Ingin berontak dari yang tampak
Ingin teriak…..
Namun ku tak mampu
Ku tak sanggup…
Aku tiada kuat tuk menjelma dirinya
Tertinggal hanyalah hampa

Rumahku

"Aku berjalan sendirian dan memulai perjalananku mengelilingi kota yang penuh dengan kedukaan dan kesepian yang menyimpan banyak sayatan hati dengan satu tujuan-untuk menemukan “rumahku”.
Setelah perjalanan jauh yang kulalui, akhirnya aku menemukan sebuah pondokan mewah.Tempat itu adalah tempat yang pertama kali kutemui dalam perjalananku.Aku menuju kesana karena aku berpikir barangkali itu adalah “rumahku”.Aku mengetuk pintu kokoh yang menjadi pembatas antara aku dan pondokan mewah itu.Namun, tak kutemukan jawaban dari dalam sana. Padahal, aku mendengar hiruk pikuk yang berasal dari dalam sana.Aku mencoba untuk mengetuk pintu itu dengan lebih keras lagi.Namun,nampaknya usahaku itu hanyalah suatu kesiaan belaka.Aku pun mengintip melalui jendela pondokan mewah itu untuk mengetahui hal yang sedang terjadi di balik pondokan mewah itu.Nyatanya, di balik pondokan mewah itu, aku melihat ada sebuah pesta yang benar-benar sangat meriah.Pesta yang belum pernah kulihat sebelumnya.Dan yang berpesta tersebut adalah sesuatu yang sangat tidak asing bagi dunia.Mereka adalah logam-logam emas, berlian, intan, perak, lembaran-lembaran uang yang terdiri dari angka yang tak pernah dapat dihitung baik olehku ataupun olehmu.Mereka tertawa dan larut dalam hingar bingar suasana pesta tanpa pernah menyadari bahwa aku telah mengetuk pintu mereka.Aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalananku karena aku yakin bahwa itu bukanlah “rumahku”.Karena penghuninya bahkan tidak mendengarkan ketukan pintuku.Itu bukanlah tempat dimana seharusnya aku berada.
Setelah menempuh ribuan waktu yang sangat terasa olehku, aku menemukan bangunan kedua setelah pondokan mewah.Bangunan itu sangat megah.Aku memberanikan diriku untuk menghampiri bangunan megah itu.Aku pun mengetuk pintu yang dimiliki oleh bangunan megah itu.Namun, tak ada jawaban dari dalam sana.Aku mencoba untuk mengetuk kembali.Namun, nampaknya penghuni bangunan megah itu tidak mau untuk meluangkan waktu mereka untuk membukakan pintu bagiku.Aku pun kemudian berusaha untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh para penghuni bangunan megah itu dengan melihat dari balik jendela bangunan.Dari balik jendela, aku melihat berbagai macam”Jabatan”duduk di bangku-bangku tinggi yang tersusun rapih disana.Sebuah meja berbentuk lingkaran berada di tengah-tengah mereka.Nampaknya mereka terlalu sibuk dengan “kuasa” yang mereka miliki.Mereka sama sekali tidak menggubris aku.Dan akupun sangat menyadari bahwa tempat itu bukanlah “rumahku”.”Rumahku”pasti bersedia membukakan pintunya untukku.Aku pun memulai perjalananku lagi.
Ketika aku merasa bahwa aku telah menghabiskan beribu-ribu tahunku,nampaklah di depanku suatu susunan batu yang kekar.Susunan batu itu membentuk suatu bangunan tinggal.Bangunan tinggal itu berwarna hitam.Pekat dan sangat gelap.Aku pun menghampiri bangunan tinggal itu.Namun, sebelum aku mengetuk pintu bangunan tinggal itu, dari balik pintu terdengar suara-suara. Suara-suara yang sangat menyeramkan.Suara-suara yang keluar dari mulut “kebencian”,”amarah”, “dengki”, “iri hati”,”tinggi hati”,”ketidakjujuran”.Suara-suara itu bergabung menjadi satu dan seakan menulikan kedua telingaku.Gendang kedua telingaku rasanya seperti terobek-robek oleh suara-suara itu. Aku pun tahu bahwa aku tak bisa mengetuk bangunan tinggal itu lagi karena kedua daun telingkau tidak tahan mendengarkan suara-suara mereka.Aku yakin, itu pastilah bukan “rumahku”.”Rumahku”tidak mungkin membuatku merasa sangat tidak nyaman.Aku pun mengambil keputusan untuk meneruskan perjalananku.Namun, semangatku kini nyaris padam karena setelah aku membuang berjuta-juta waktuku yang sangat berharga, aku belum juga dapat menemukan “rumahku”.
Setelah aku berjalan sejauh sisa nafasku, aku menemukan sebuah gubuk mungil.Aku menghampiri gubuk mungil itu dan aku berharap itu adalah “rumahku” karena aku merasa bahwa nafas kehidupanku berangsur-angsur mulai padam. Aku benar-benar membutuhkan tempat untuk dapat menghembuskan nafas kehidupanku lagi.Bila aku tidak bisa menemukannya maka dunia pun takkan pernah memiliki aku lagi selama sisa perputarannya yang pasti takkan lama.Aku menguatkan diriku untuk mengetuk pintu gubuk mungil itu. Namun, sebelum aku mengetuk pintu itu, pintu itu telah terbuka untukku.Dan aku melihat di gubuk mungil itu berkumpul banyak hal yang sudah sangat jarang terdapat dalam dunia nyata.Disana ada “ketulusan”, ”kesetiaan”, “pengorbanan”, ”kejujuran”, ”kerendahanhati”, ”kesabaran”. Mereka menyambutku dengan sangat hangat.Mereka membuka pintu mereka meski aku belum sempat mengetuk pintunya.Dan aku pun sangat yakin, gubuk mungil itu adalah “rumahku”.Rumah yang selama ini aku cari-cari.Dan nyatanya aku masih bisa menghembuskan nafas kehidupanku lagi dan dunia pun masih akan terus berputar dengan sederetan kisah yang tak dapat dimengerti oleh semua orang bahkan oleh pribadi yang mengalaminya.
Sekarang,aku hanya ingin memberitahumu siapa aku.Aku adalah harta tak ternilai yang takkan pernah dapat tergantikan oleh harta duniawi apapun. Aku adalah pembawa bahagia bagi siapa saja yang membukakan hatinya untukku.Aku adalah pemberi semangat dalam jalani realita berliku yang tak pernah jelas kisah akhirnya.Aku adalah kado terindah dari Tuhan untukmu.Aku adalah “CINTA”.

menangis

Menangis……
Hanya itu yang mau kubuat
Menangis menunggumu
Menangis karenamu
Kutak mengerti rasa itu
Sungguh tak kenal….
Hanya ragu yang kau beri
Menanti…
Aku slalu menanti
Berharap kau kan nyata di hadapku
Inginku tuk dapatkan senyum
Seuntai saja….
Yang setia kunanti
Tanpa pernah kau sadar
Terlukaku dalam sikapmu
Tak menentu…
Rasa hatiku buntu tuk temukan yakin yang kumau

dilema rasa

Gairah asa bercampur senja
Bias sinar memaku celah hati tak berbinar
Beku rasa kini mencair
Kelopak kasih mekar di penghujung cerita
Usailah ingin tanpa tuju
Akhir tiada suka mendera

harap dalam janji

Dalam senja tak berujung
Nantiku kan hadir sosokmu yang tak pernah nyata
Terpupuskan oleh asa dalam gemerlapnya dunia

Di balik jeruji rindu tak bertuan
Khayalku kan gantikan dirinya di pikirmu
Terjerembabku akan hasrat tiada bertepi

Dengan rasa tulus tak bergairah
Mimpiku kan terdengar tanpa bisikan mengalun
Terkuburku pada untaian manis dari bibirmu yang membeku

selamat tinggal kebodohan

Rentetan kisah itu membekukan hati yang telah mencair
Tak jua beranjak tuk awali nuansa baru
Hanya berputar pada masa kelam yang tak berujung
Namun itu hanyalah suatu kebodohan….
Ya….
Kebodohan yang sangat tolol sekali..
Kebodohan yang tak mampu ditolerir lagi sama sekali
Kini semua bayangan telah sirna
Tak lagi tercekam dalam gelapnya kabut hitam yang menganga
Karena hidup teramat berharga untuk dibuang sebegitu sia-sianya

waktu

tanya itu mengemuka di tiap hati insan…
harapkan kembali tapi tak gapai…
satu sisa sesal beruntaikan angan..
tak terbendung..
tak tertata…
tak berhembus…
rangkaian detik tiada berulang…
tiada nilai dapat terhitung untuknya…

just one word

kiasan teranggurkan di makna fana
sanubari diselubung hamparan belenggu
ikrar benih melenggang pergi
sempurnakan rangkaian kisah tak bertepi

Kamis, 01 Januari 2009

Just A Regret

Kita takkan dapat bersatu

Meski kutau hatimu milikku

Kita takkan dapat bersua

Meski kuyakini rasamu sama denganku


Segalanya hanya sebuah rangkaian melodi

Memori klasik yang tak kunjung sirna

Mengisahkan pedih dua insani

Tenggelam dalam sesal tak bertepi


Kau memenjarakanku dalam jeruji rindu

Kupun hanya mampu bersembunyi di suatu realita

Yang tak pernah kutau maknanya