"Aku berjalan sendirian dan memulai perjalananku mengelilingi kota yang penuh dengan kedukaan dan kesepian yang menyimpan banyak sayatan hati dengan satu tujuan-untuk menemukan “rumahku”.
Setelah perjalanan jauh yang kulalui, akhirnya aku menemukan sebuah pondokan mewah.Tempat itu adalah tempat yang pertama kali kutemui dalam perjalananku.Aku menuju kesana karena aku berpikir barangkali itu adalah “rumahku”.Aku mengetuk pintu kokoh yang menjadi pembatas antara aku dan pondokan mewah itu.Namun, tak kutemukan jawaban dari dalam sana. Padahal, aku mendengar hiruk pikuk yang berasal dari dalam sana.Aku mencoba untuk mengetuk pintu itu dengan lebih keras lagi.Namun,nampaknya usahaku itu hanyalah suatu kesiaan belaka.Aku pun mengintip melalui jendela pondokan mewah itu untuk mengetahui hal yang sedang terjadi di balik pondokan mewah itu.Nyatanya, di balik pondokan mewah itu, aku melihat ada sebuah pesta yang benar-benar sangat meriah.Pesta yang belum pernah kulihat sebelumnya.Dan yang berpesta tersebut adalah sesuatu yang sangat tidak asing bagi dunia.Mereka adalah logam-logam emas, berlian, intan, perak, lembaran-lembaran uang yang terdiri dari angka yang tak pernah dapat dihitung baik olehku ataupun olehmu.Mereka tertawa dan larut dalam hingar bingar suasana pesta tanpa pernah menyadari bahwa aku telah mengetuk pintu mereka.Aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalananku karena aku yakin bahwa itu bukanlah “rumahku”.Karena penghuninya bahkan tidak mendengarkan ketukan pintuku.Itu bukanlah tempat dimana seharusnya aku berada.
Setelah menempuh ribuan waktu yang sangat terasa olehku, aku menemukan bangunan kedua setelah pondokan mewah.Bangunan itu sangat megah.Aku memberanikan diriku untuk menghampiri bangunan megah itu.Aku pun mengetuk pintu yang dimiliki oleh bangunan megah itu.Namun, tak ada jawaban dari dalam sana.Aku mencoba untuk mengetuk kembali.Namun, nampaknya penghuni bangunan megah itu tidak mau untuk meluangkan waktu mereka untuk membukakan pintu bagiku.Aku pun kemudian berusaha untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh para penghuni bangunan megah itu dengan melihat dari balik jendela bangunan.Dari balik jendela, aku melihat berbagai macam”Jabatan”duduk di bangku-bangku tinggi yang tersusun rapih disana.Sebuah meja berbentuk lingkaran berada di tengah-tengah mereka.Nampaknya mereka terlalu sibuk dengan “kuasa” yang mereka miliki.Mereka sama sekali tidak menggubris aku.Dan akupun sangat menyadari bahwa tempat itu bukanlah “rumahku”.”Rumahku”pasti bersedia membukakan pintunya untukku.Aku pun memulai perjalananku lagi.
Ketika aku merasa bahwa aku telah menghabiskan beribu-ribu tahunku,nampaklah di depanku suatu susunan batu yang kekar.Susunan batu itu membentuk suatu bangunan tinggal.Bangunan tinggal itu berwarna hitam.Pekat dan sangat gelap.Aku pun menghampiri bangunan tinggal itu.Namun, sebelum aku mengetuk pintu bangunan tinggal itu, dari balik pintu terdengar suara-suara. Suara-suara yang sangat menyeramkan.Suara-suara yang keluar dari mulut “kebencian”,”amarah”, “dengki”, “iri hati”,”tinggi hati”,”ketidakjujuran”.Suara-suara itu bergabung menjadi satu dan seakan menulikan kedua telingaku.Gendang kedua telingaku rasanya seperti terobek-robek oleh suara-suara itu. Aku pun tahu bahwa aku tak bisa mengetuk bangunan tinggal itu lagi karena kedua daun telingkau tidak tahan mendengarkan suara-suara mereka.Aku yakin, itu pastilah bukan “rumahku”.”Rumahku”tidak mungkin membuatku merasa sangat tidak nyaman.Aku pun mengambil keputusan untuk meneruskan perjalananku.Namun, semangatku kini nyaris padam karena setelah aku membuang berjuta-juta waktuku yang sangat berharga, aku belum juga dapat menemukan “rumahku”.
Setelah aku berjalan sejauh sisa nafasku, aku menemukan sebuah gubuk mungil.Aku menghampiri gubuk mungil itu dan aku berharap itu adalah “rumahku” karena aku merasa bahwa nafas kehidupanku berangsur-angsur mulai padam. Aku benar-benar membutuhkan tempat untuk dapat menghembuskan nafas kehidupanku lagi.Bila aku tidak bisa menemukannya maka dunia pun takkan pernah memiliki aku lagi selama sisa perputarannya yang pasti takkan lama.Aku menguatkan diriku untuk mengetuk pintu gubuk mungil itu. Namun, sebelum aku mengetuk pintu itu, pintu itu telah terbuka untukku.Dan aku melihat di gubuk mungil itu berkumpul banyak hal yang sudah sangat jarang terdapat dalam dunia nyata.Disana ada “ketulusan”, ”kesetiaan”, “pengorbanan”, ”kejujuran”, ”kerendahanhati”, ”kesabaran”. Mereka menyambutku dengan sangat hangat.Mereka membuka pintu mereka meski aku belum sempat mengetuk pintunya.Dan aku pun sangat yakin, gubuk mungil itu adalah “rumahku”.Rumah yang selama ini aku cari-cari.Dan nyatanya aku masih bisa menghembuskan nafas kehidupanku lagi dan dunia pun masih akan terus berputar dengan sederetan kisah yang tak dapat dimengerti oleh semua orang bahkan oleh pribadi yang mengalaminya.
Sekarang,aku hanya ingin memberitahumu siapa aku.Aku adalah harta tak ternilai yang takkan pernah dapat tergantikan oleh harta duniawi apapun. Aku adalah pembawa bahagia bagi siapa saja yang membukakan hatinya untukku.Aku adalah pemberi semangat dalam jalani realita berliku yang tak pernah jelas kisah akhirnya.Aku adalah kado terindah dari Tuhan untukmu.Aku adalah “CINTA”.